Written by Nugie on March 2, 2010 – 7:04 am
Grow with Character! (42/100) Series by Hermawan Kartajaya
Definisi “Orang Besar” Menurut Tan Siong Pik
Pengalaman saya berorganisasi sejak remaja sangat membantu dalam mengelola MarkPlus Professional Service, terutama pada saat awal. Papa saya yang pegawai negeri selalu menjadi contoh bagaimana dia suka beraktivitas sosial. Kami merupakan keluarga sederhana yang tinggal di kampung Kapasari, Gang Lima, Surabaya.
Waktu masa kecil saya juga disitu. Bahkan, sampai melahirkan Michael, anak pertama, saya masih di kampung itu. Di kampung, kami hidup sangat harmonis. Kalau Idul Fitri, orang-orang Tionghoa mengirimkan kue kering sambil mengucapkan selamat. Sebaliknya, waktu Imlek, para tetangga muslim mengirimkan kue basah kepada kami.
Sejak kecil, saya selalu didoktrin oleh Papa saya bahwa saya adalah orang Tionghoa, tapi warga negara Indonesia, bukan warga negara Tiongkok. Juga sudah biasa mendengar suara azan karena ada langgar di kampung saya. Saya biasa aktif ikut kerja bakti dan jaga malam di kampung, karena Papa saya aktif di situ.
Selain itu, papa saya juga bendahara pengurus Sekolah Taruna Nusa Harapan atau T.N.H., yang akhirnya berubah menjadi Sasana Bhakti. Papa saya juga waktu mudanya pernah juara pingpong seluruh Indonesia, waktu bat pemukulnya masih dari kayu! Terinspirasi oleh aktivitas Papa saya di oraganisasi sosial dan olahraga itulah, saya jadi suka mengurus organisasi sosial.
Papa saya pernah mengatakan suaru kalimat yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang. “Orang besar itu bukan diukur berapa duitnya di kala hidup, tapi dilihat dari berapa orang yang mau mengikuti mobil jenazahnya, walaupun dia gak punya duit!” karena itu, selain pernah menajdi kepala SMP Sasana bhakti pada usia belum genap 20 tahun, saya juga menjadi ketua Sasana Bhakti cabang tenis meja. Bahkan, pernah jadi ketua PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) cabang Surabaya dan akhirnya sekretaris PTMSI Jawa Timur. Di Kampung Kapasari, saya pun mendirikan klub pingpong yang bertanding melawan kampung-kampung lainnya.
Hal-hal itulah yang akhirnya membawa saya ikut aktif di Indonesia Managers Club atau IMC Cabang Surabaya. Saya akhirnya juga ikut mendirikan Asosiasi Manajer (AMA) Indonesia pusat. Di pusat, saya menjabat sebagai wakil ketua dan di Surabaya saya menjadi ketua.
Di Jakarta, saya mengajak Hadi Irawan Djuwardi yang waktu itu masih sebagai konsultan saya untuk aktif di AMA Indonesia Pusat. Sedangakn di AMA Suarabaya, saya mengajak rekan saya, Pak Kresnayana Yahya. Belakangan, keduanya menjadi ketua, baik di Jakarta maupun di Surabaya.
Saya sendiri latas lebih aktif untuk membentuk Indonesia Marketin gAssociation (IMA). Ada dua pertimbangan untuk itu. Pertama, IMA hanya fokus pada marketing, sejalan dengan MarkPlus. Kedua, jalur internasionalnya jelas. Yaitu, ke Asia Pasific Marketing Federation (APMF) dan World Marketing Federation (WMF), namanya waktu itu.
Akhirnya saya menjadi presiden APMF pada 1998-2000. Sekarang APMF sudah berubah menjadi AMP, tanpa Pasific. Philip Kotler adalah honorary fellow, sednangkan saya adalah fellow di situ. WMF berubah menjadi WMA yang berarti association bukan federation. Saya tetap menjadi presiden WMA sampai sekarang karena Amerika dan Eropa saling “bersaing”.
Pengalaman di organisasi inilah yang akhirnya membuat saya membentuk MarkPlus Strategic Forum yang lebih terkenal dengan nama “Forum” di Surabaya pada 1992. Tanadi Santoso adalah angota nomor 001, yang setelah sepuluh tahun berturut-turut menjadi anggota, pada 2002 berubah status menjadi life time member. Nggak usah bayar lagi!
Pembentukan “Forum” ini, terus terang, terinspirasi dari keaktifan saya diberbagai rangaisasi sosial, terutama AMA dan IMA. Saya melihat “kekuatan” member kalau mereka berkumpul secara rutin bulanan. Zaman itu belum ada internet jadi pertemuan hanya offline.
Saya masih ingat, kasus yang menjadi topik pertemuan pertama Forum adalah Citibank Credit Card! Waktu itu saya bisa mengundang Enny Hardjanto yang Marketign Director Citibank dari Jakarta, karena MarkPlus juga merupakan “partner” Citibank untuk mencari customer kartu kreditnya.
Yang hadir pada pertemuan pertama itu hanya 25 orang. Tempatnya di Heritage Club, klub eksekutif satu-satunya di Surabaya waktu itu. Saya “Memberanikan” diri untuk menjadi member Heritage subpaya bisa “naik kelas”. Padahal bayarnya mahal. Tapi, karena itulah, saya lantas boleh menggunakan Heritage Club di jalan Basuki Rachmad itu untuk tempat pertemuan rutin bagi forum!
Ini juga sebagai differensiasi dari pertemuan IMC maupun AMA. Memang harus menjadi “bonek” sedikit kalau mau “naik kelas”. Nah, gabungan dari pengalaman berorganisasi dan jiwa kewirausahaan itulah yang membuat saya menjadikan Forum sebagai bagian dari strategi MarkPlus Professional Service.
Pada saat ini, ya sudah biasa. Semua orang sadar bahwa harus membentuk komunitas! Besok akan saya ceritakan bagaimana Forum ini saya kelola sampai akhirnya menjadi the real marketing community seperti sekarang.
Tapi, saya benar-benar merasa berutang pada Papa saya yang menginspirasi saya untuk berorganisasi. Pada hari penguburannya, ketika Papa saya meninggal pada usia 61 tahun, saya benar-benar menangis. Waktu itu saya masih menjadi kepala SMP Sasana Bhakti. Kenapa? Satu, saya tidak bisa menyelesaikan kuliah saya di ITS.
Padahal, Papa saya sangat bangga, setiap menceritakan kepada teman-temannya bahwa saya adalah mahasiswa ITS Fakultas Teknik Elektro!
Kedua, saya merasa belum bisa “membalas budi” apa-apa kepada Papas saya yang sudah mendidik saya supaya bisa jadi “juara kelas” dan “aktif di organisasi sosial”. Saya sangat menyesal sampai sekarang, karena waktu itu saya tidak punya cukup uang untuk memberikan pengobatan terbaik untuk penyakit tenggorokkannya.
Ketiga, tapi saya juga menangis bangga. Melihat orang yang mengiringi mobil jenazahnya yang disetir pelan-pelan, sangat panjang! Dari Kapasan Gang Lima samapi Jagalan 132-136, tempat sekolah Sasana Bhakti! Semua orang yang mengiringi mobil jenazah Papa saya mengenang aktivitas sosialnya! Saya jadi ingat definisi “orang besar” menurut Papa saya almarhum, Tan Siong Pik atau Tandyono yang sangat nasionalis, pluralis dan suka aktif di organisasi sosial.
Sumber Koran Jawa Pos




